BANGKA BELITUNG — Aula pelepasan siswa SMAN 1 Simpang Katis yang seharusnya dipenuhi tawa bahagia mendadak berubah menjadi lautan haru. Di tengah deretan siswa yang merayakan kelulusan, ada satu nama yang dipanggil namun tak lagi bisa melangkah ke atas panggung: Cahaya Putri Soleha. Siswi berprestasi itu kini hanya hadir lewat selembar foto yang dipeluk penuh air mata oleh keluarganya, Rabu (06/05/2026).
Hari yang semestinya menjadi puncak kebanggaan berubah menjadi momen paling menyakitkan bagi keluarga almarhumah. Tidak ada senyum Cahaya, tidak ada langkah kaki menuju podium wisuda, hanya kenangan dan deretan prestasi yang kini tersusun rapi di samping bingkai fotonya.
Pihak sekolah tetap memberikan penghormatan khusus kepada Cahaya Putri Soleha sebagai salah satu siswi berprestasi SMAN 1 Simpang Katis. Sejumlah piagam penghargaan yang pernah diraihnya menjadi saksi bahwa almarhumah dikenal sebagai pribadi cerdas, tekun, dan penuh semangat.
Prestasi akademik maupun non-akademik, termasuk di bidang baca puisi, menjadi bukti perjalanan hidupnya yang penuh potensi. Namun takdir berkata lain. Sosok yang seharusnya berdiri menerima penghargaan itu kini tinggal nama yang disebut dengan isak tangis.
Suasana duka pecah ketika guru dan rekan-rekan almarhumah mengenang pribadi Cahaya sebagai sosok ramah, ceria, dan mudah membantu teman-temannya. Banyak sahabat tak mampu menahan air mata saat prosesi penghormatan berlangsung.
Di balik seremoni kelulusan tersebut, keluarga masih menyimpan luka yang belum sembuh. Mereka bukan hanya kehilangan anak yang dibanggakan, tetapi juga tengah berjuang mencari keadilan atas kematian Cahaya yang kini masih bergulir dalam proses hukum.
Seperti diketahui, meninggalnya almarhumah diduga berkaitan dengan penanganan medis yang kini menjadi sorotan serius. Kasus dugaan penolakan pasien dan dugaan kelalaian medis di Primaya Bhakti Wara Hospital saat ini telah memasuki tahap penyidikan oleh Polresta Pangkalpinang.
Kuasa hukum keluarga korban, Andi Aziz Setiawan, menegaskan pihaknya akan terus mengawal proses hukum hingga seluruh fakta terungkap secara transparan.
“Hari ini seharusnya menjadi hari paling membahagiakan bagi Cahaya dan keluarganya. Namun yang hadir hanya foto, kenangan, dan air mata. Kami akan terus memperjuangkan keadilan agar kasus ini dibuka seterang-terangnya dan tidak ada lagi keluarga lain yang mengalami penderitaan serupa,” tegasnya kepada awak media.
Bagi keluarga, wisuda ini bukan lagi sekadar seremoni kelulusan. Ini menjadi simbol perjuangan terakhir seorang anak berprestasi yang tidak sempat menikmati hasil jerih payahnya sendiri. Di tengah gaun wisuda dan tepuk tangan kelulusan, terselip duka mendalam yang belum menemukan ujung keadilan. (Pewarta: Zainal Abidin)




