Jurnalis & Komunitas Transpuan Yogyakarta Berkolaborasi, Dorong Ruang Inklusif bagi ODHIV

Jurnalis & Komunitas Transpuan Yogyakarta Berkolaborasi, Dorong Ruang Inklusif bagi ODHIV
Jurnalis & Komunitas Transpuan Yogyakarta Berkolaborasi, Dorong Ruang Inklusif bagi ODHIV

YOGYAKARTA Isu kemanusiaan dan pemenuhan hak kelompok rentan kembali menjadi sorotan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Yayasan Keluarga Besar Waria Yogyakarta (Kebaya) resmi menggandeng puluhan jurnalis untuk memperkuat kolaborasi dalam menciptakan pemberitaan yang inklusif bagi Orang dengan HIV (ODHIV) dan komunitas transpuan.

Melalui forum strategis bertajuk “Menguatkan Hak ODHIV dan Transpuan di Daerah Istimewa Yogyakarta” pada Selasa (7/4/2026), kolaborasi ini bertujuan untuk memerangi stigma negatif yang selama ini masih membayangi kelompok minoritas gender dan penyintas HIV.

Fokus Yayasan Kebaya: Pendampingan ODHIV dan Lansia
​Program Manager Yayasan Kebaya, Ruly Maray, menjelaskan bahwa saat ini organisasi tengah memfokuskan energi pada pendampingan sosial yang krusial.

“Fokus kami saat ini memang pada perawatan orang dengan HIV, isu lansia, dan pemberdayaan kelompok minoritas. Kami ingin memastikan mereka tetap mendapatkan ruang hidup yang layak,” ujar Ruly.

Ia juga menekankan pentingnya kehadiran negara dalam menyusun regulasi yang berlandaskan hak asasi manusia (HAM) untuk mendukung kemajuan peradaban bangsa yang inklusif.

Peran Penting Media dalam Menghapus Stigma
​Salah satu poin utama dalam pertemuan ini adalah sensitivitas bahasa dalam produk jurnalistik. Direktur Yayasan Kebaya, Vinolia, mengingatkan para jurnalis untuk lebih bijak dalam memilih diksi.

Hindari Labeling: Menghentikan penyebutan komunitas sebagai “penyimpangan” atau “penyakit”.
​Pengakuan Identitas: Menegaskan identitas sebagai transpuan yang memiliki hak setara sebagai warga negara.
​Prinsip Yogyakarta: Menghormati martabat setiap individu tanpa diskriminasi identitas gender.

Jurnalis senior Shinta Maharani turut memberikan pandangan praktis mengenai peliputan isu minoritas. Menurutnya, media harus berhenti memberikan narasi bahwa HIV adalah “vonis kematian”.

​“HIV bisa dialami oleh siapa saja, bukan hanya kelompok tertentu. Pemberitaan harus berpijak pada data dan perspektif kesehatan publik, bukan ketakutan,” tegas Shinta.

Kisah Inspiratif: Bangkit dari Stigma HIV
​Dalam forum tersebut, Pramono, Financial Manager Yayasan Kebaya, membagikan pengalaman pribadinya sebagai ODHIV. Ia menceritakan bagaimana dukungan keluarga menjadi kunci utama kesembuhannya secara mental.

Fase Perjalanan Pramono Deskripsi
Penerimaan Diri Membutuhkan waktu 3 tahun untuk menerima status HIV.
Keterbukaan Memutuskan jujur kepada keluarga besar sebagai titik balik.
Dukungan Mendapat kekuatan untuk hidup sehat dan optimistis.

Aksi Sosial Kini aktif mendampingi sesama ODHIV agar tidak merasa sendiri.Menuju Yogyakarta yang Lebih Inklusif
​Kolaborasi antara komunitas transpuan dan jurnalis ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam mempraktikkan jurnalisme empati.

Dengan pemberitaan yang tepat, Yogyakarta diharapkan mampu menjadi pionir ruang sosial yang menghargai keberagaman dan menjunjung tinggi hak asasi manusia bagi seluruh lapisan masyarakat.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *