Pak Ompong, Eks Sopir Truk Kini Jualan Klithikan di Kotagede

Pak Ompong, Eks Sopir Truk Kini Jualan Klithikan di Kotagede

Yogyakarta – Di kawasan Pasar Klithikan Kotagede, seorang pria 66 tahun menggelar lapak barang bekas setiap sore. Namanya Sugito. Warga lebih mengenalnya sebagai Pak Ompong.

Sejak hampir 10 tahun terakhir, ia mengadu nasib dengan berjualan barang klithikan. Beragam barang bekas ditata sederhana di atas lapak, mulai dari onderdil lawas hingga perabot rumah tangga.

Sebelum berdagang, Sugito adalah sopir truk lintas provinsi. Ia mengaku delapan tahun menyetir truk ban enam pengangkut kayu dengan rute Sumatra–Surabaya.

Namun sebuah kecelakaan mengubah hidupnya.

“Waktu itu ngantuk, perjalanan Jakarta ke Surabaya. Nabrak, gigi depan sampai lepas,” katanya kepada berita top line, sambil tersenyum mengenang asal-usul julukan ‘Ompong’.

Peristiwa itu membuatnya trauma. Ditambah keinginan lebih dekat dengan keluarga, ia memutuskan berhenti dari dunia sopir dan memilih menetap di Yogyakarta.

Kini, setiap pukul 17.00 WIB, ia membuka lapak hingga malam. Untuk menambah penghasilan, pagi hingga siang hari ia bekerja sebagai pengantar tabung gas LPG.

Di balik lapaknya, ada sosok remaja yang setia membantu. Dia Ana Sopatun Khasanah (17), putri semata wayangnya.

Ana setiap malam menemani sang ayah berjualan hingga sekitar pukul 21.00 WIB. Siang harinya, ia bekerja di usaha laundry.

Ana mengaku berhenti sekolah setelah lulus SMP pada 2024 karena keterbatasan biaya.

“Saya bantu Bapak biar nggak capek sendirian,” ujarnya pelan.

Meski harus mengubur keinginan melanjutkan pendidikan, Ana mengaku ikhlas. Baginya, membantu orang tua adalah prioritas.

Sugito pun tak menuntut banyak. Ia hanya berharap putrinya kelak memiliki kehidupan yang lebih baik.

“Yang penting anak saya jadi orang baik dan sukses. Itu sudah cukup,” katanya.

Di tengah geliat ekonomi kota wisata seperti Yogyakarta, kisah Pak Ompong menjadi gambaran perjuangan warga kecil yang bertahan dengan kerja keras—apa pun pekerjaannya, selama halal.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *