Yogyakarta – Di tengah derasnya arus budaya populer asing dan dominasi konten digital, seniman asal Yogyakarta, Dodi Darussalam, justru mengambil langkah berbeda. Mantan guru seni budaya itu kini fokus menjadi pelukis profesional dengan satu misi: menghidupkan kembali nilai-nilai budaya Jawa lewat kanvas.
Pria bernama lengkap Dodi Muhammad Darussalam bukan pendatang baru di dunia seni rupa. Ketertarikannya pada seni sudah tumbuh sejak 2008 saat ia menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta. Ia kemudian melanjutkan studi di lingkungan pendidikan Taman Siswa yang dikenal kuat memegang nilai kebudayaan.
Sebelum memutuskan berhenti mengajar pada awal 2025, Dodi sempat mengabdikan diri sebagai guru seni budaya di berbagai sekolah. Ia pernah mengajar di SMA Budi Luhur, SMP Muhammadiyah Bantul, hingga Global Islamic School (GIS).
Baginya, mengajar bukan sekadar pekerjaan. Ia menjadikannya sebagai ruang observasi untuk membaca karakter generasi muda.
“Waktu itu saya ingin tahu, apakah anak-anak sekarang masih mencintai seni dan budaya kita sendiri atau sudah terlalu jauh terpengaruh budaya luar,” kata Dodi saat ditemui di Yogyakarta.
Resah Budaya Lokal Tergeser
Dari pengalamannya di ruang kelas, Dodi melihat perubahan minat yang cukup signifikan. Banyak siswa lebih mengenal tren budaya Korea dan Barat dibandingkan kesenian tradisional Jawa.
Keresahan itu yang kemudian menguatkan tekadnya untuk fokus berkarya. Hampir seluruh lukisannya kini mengangkat tema budaya Jawa—mulai dari figur tradisional, simbol filosofi, hingga potret kehidupan masyarakat dengan sentuhan nilai lokal.
Menurutnya, seni rupa bisa menjadi media efektif untuk menanamkan kembali kebanggaan terhadap identitas budaya.
“Saya ingin anak-anak muda melihat bahwa budaya Jawa itu dalam, filosofis, dan relevan dengan zaman sekarang,” ujarnya.
Siapkan Sanggar Seni
Meski tak lagi mengajar di sekolah formal, naluri pendidiknya belum hilang. Dodi berencana mendirikan sanggar seni sebagai ruang belajar alternatif bagi anak-anak dan remaja.
Sanggar tersebut nantinya tidak hanya mengajarkan teknik melukis, tetapi juga memperkenalkan filosofi dan nilai-nilai budaya Jawa yang terkandung dalam setiap karya.
“Harapannya, seni tidak berhenti di estetika, tapi juga jadi sarana pendidikan karakter,” katanya.
AI Bukan Ancaman
Di tengah perkembangan teknologi, termasuk Artificial Intelligence (AI), Dodi memilih bersikap terbuka. Ia tidak menganggap AI sebagai ancaman bagi seniman.
Menurutnya, teknologi bisa dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mengembangkan ide dan eksplorasi konsep.
“AI jangan dipakai untuk menjiplak. Gunakan untuk mencari referensi, memperluas wawasan, dan memperkaya gagasan,” pesannya kepada generasi muda.
Aktif di Media Sosial
Dodi juga memanfaatkan media sosial untuk menjangkau publik lebih luas. Ia aktif dengan nama akun “Lukis Polpen” dan “Lukis Wajah Jogja” di Instagram, Facebook, serta TikTok.
Melalui platform digital itu, ia memamerkan karya-karyanya sekaligus melayani pesanan lukisan, baik potret wajah maupun karya bertema idealis.
Bagi Dodi, seni bukan sekadar profesi, tetapi jalan pengabdian. Di tengah perubahan zaman, ia memilih tetap berdiri di jalur budaya, menjaga agar identitas lokal tak larut dalam arus globalisasi.




