Bumi Langit Mangunan, Iskandar Waworuntu Bangun Kemandirian Pangan Berbasis Akhlak

Bumi Langit Mangunan, Iskandar Waworuntu Bangun Kemandirian Pangan Berbasis Akhlak

BANTUL – Di kawasan perbukitan Mangunan, Imogiri, Bantul, berdiri sebuah kawasan pertanian terpadu yang mengusung konsep kemandirian pangan berbasis spiritualitas. Tempat itu dikenal sebagai Bumi Langit Institute, digagas oleh Iskandar Waworuntu.

Lahan yang dulunya terdampak gempa Yogyakarta 2006 kini berubah menjadi kawasan permakultur seluas sekitar tiga hektare. Di sana, sistem pertanian, peternakan, energi, hingga pengolahan limbah dirancang saling terhubung dalam satu ekosistem.

Pria yang akrab disapa Pak Is itu menegaskan, Bumi Langit bukan sekadar kebun atau tempat tinggal. Ia menyebut kawasan tersebut sebagai ruang belajar untuk membangun kembali kesadaran manusia terhadap alam.

“Persoalan terbesar hari ini bukan hanya krisis pangan, tapi krisis akhlak. Bagaimana sikap kita terhadap air, tanah, tumbuhan, dan hewan,” ujarnya dalam wawancara terbaru.

Berangkat dari Pencarian Spiritual

Iskandar memiliki latar belakang lintas budaya. Ia lahir dari ayah Indonesia dan ibu Inggris. Sejak muda, ia telah lama menetap di Yogyakarta dan sempat bergabung dengan Bengkel Teater yang dipimpin oleh W. S. Rendra.

Setelah sempat merantau ke luar negeri, ia kembali ke Indonesia pada awal 2000-an untuk memperdalam ajaran Islam. Dari proses itu, ia menemukan pendekatan hidup yang menurutnya lebih selaras dengan nilai kearifan lokal dan sosok “kiai desa”.

Pada Mei 2014, ia resmi mendirikan Bumi Langit Institute dengan pendekatan permakultur yang menggabungkan etika, ekologi, dan spiritualitas.

Pangan Halal dan Baik

Di Bumi Langit, konsep pangan tidak berhenti pada label organik. Iskandar menekankan prinsip halalan thoyyiban, yakni makanan yang halal sekaligus baik dan memberi manfaat.

Menurutnya, manusia boleh memanfaatkan sumber daya alam, tetapi tidak boleh berlebihan. Ia menyebut eksploitasi berlebihan sebagai bentuk ketidakadilan terhadap alam.

Di kawasan itu, hasil pertanian dan peternakan diolah secara mandiri. Warung Bumi Langit menyajikan berbagai produk seperti roti organik, mentega, hingga kefir yang diproduksi langsung dari bahan baku internal.

Sistem pengelolaan air limbah rumah tangga dan peternakan juga dirancang untuk kembali menjadi pupuk dan nutrisi kolam. Untuk energi, sebagian kebutuhan dipasok dari panel surya dan biogas.

Ekspansi hingga Bali

Selain di Mangunan, Iskandar juga mengembangkan lahan produktif di Pupuan, Tabanan, Bali. Kawasan tersebut difokuskan pada produksi sayuran organik untuk mendukung keberlanjutan sistem pangan.

Kini, pengelolaan Bumi Langit mulai melibatkan anak-anaknya. Iskandar berharap generasi muda tidak hanya berbicara soal krisis lingkungan, tetapi juga terlibat langsung dalam solusi.

Baginya, kedaulatan pangan bukan semata urusan produksi. Lebih dari itu, ia menyebutnya sebagai jalan menuju kesehatan, kesejahteraan, dan keberkahan hidup yang berkelanjutan.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *