Yogyakarta – Astuti Handayani, A.P., S.Pd., M.Pd., calon doktor dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), tetap konsisten menjalankan peran sebagai Pendamping Kelurahan/Kalurahan Budaya di Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta selama 11 tahun terakhir.
Di tengah kesibukannya menempuh studi S3, Astuti tak meninggalkan tugas lapangan. Sejak 2015, ia aktif mendampingi sejumlah kelurahan dan kalurahan budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mulai dari Canden (Jetis), Srigading, Panggungharjo, Sabdodadi, hingga Selopamioro.
Perannya tak sekadar administratif. Astuti terlibat langsung dalam pemetaan potensi budaya lokal, pembinaan komunitas seni, penyusunan program kebudayaan, hingga penguatan tata kelola berbasis partisipasi masyarakat.
Ia juga menjembatani koordinasi antara pemerintah daerah dan pelaku budaya agar program berjalan berkelanjutan.
Memasuki tahun kedua pendampingan di Kelurahan Warungboto, Astuti fokus memperkuat ekosistem budaya lokal melalui kolaborasi lintas sektor.
Program yang dikembangkan menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat, penguatan identitas budaya, serta integrasi kebijakan kebudayaan dengan pembangunan wilayah.
“Setiap kalurahan memiliki karakter dan tantangan berbeda. Selama 11 tahun ini, pengalaman lapangan menjadi ruang belajar yang sangat berharga, sekaligus memperkaya riset akademik saya di jenjang doktoral,” ujar Astuti, Jumat (20/2/2026).
Dalam studi doktoralnya di UNY, ia meneliti strategi pengelolaan warisan budaya tingkat lokal sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.
Menurutnya, penguatan kapasitas aparatur dan komunitas menjadi kunci agar program kebudayaan tidak berhenti pada seremonial, tetapi berdampak nyata.
Konsistensi Astuti menjadikannya salah satu praktisi pendampingan budaya yang berpengalaman di DIY.
Selama lebih dari satu dekade, ia berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas masyarakat dan pemerintah kalurahan dalam mengelola potensi budaya secara mandiri dan terstruktur.
Komitmennya menunjukkan bahwa peran akademisi dan praktisi dapat berjalan beriringan.
Bagi Astuti, pendampingan bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk tanggung jawab moral untuk menjaga dan mengembangkan kebudayaan DIY agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.




