YOGYAKARTA – Pemerintah Daerah DIY melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY resmi meluncurkan Jogja Fashion Week (JogFW) 2026 dengan tema besar “Roots of Resonance, Beyond”.
Memasuki penyelenggaraan ke-21, ajang mode tahunan ini ditegaskan bukan sekadar peragaan busana, melainkan strategi penguatan ekosistem industri kreatif berbasis budaya menuju pasar global.
Peluncuran digelar di Student Center GIK Universitas Gadjah Mada pada Kamis (12/2/2026), sekaligus menandai dimulainya rangkaian program menuju puncak acara yang akan berlangsung 13–16 Agustus 2026 di Jogja Expo Center (JEC).
Strategi Budaya dan Inovasi
Kepala Disperindag DIY, Yuna Pancawati, menegaskan bahwa JogFW telah berevolusi menjadi platform interaksi ekonomi yang berkelanjutan. Tema Roots of Resonance merepresentasikan kekuatan akar budaya Yogyakarta yang bertransformasi melalui inovasi dan teknologi sehingga mampu menembus pasar internasional.
Menurutnya, integrasi nilai tradisi dengan kreativitas modern menjadi fondasi utama agar produk fashion lokal memiliki daya saing global.
“JogFW adalah ruang strategis untuk mempertemukan warisan budaya dengan kebutuhan industri masa kini,” ujarnya.
Skala Lebih Besar dan Kompetitif
Pada 2026, skala penyelenggaraan ditingkatkan secara signifikan. Panitia menargetkan lebih dari 150 tenant Industri Kecil dan Menengah (IKM) terkurasi yang akan menampilkan produk fashion dan aksesori premium.
Sebanyak 96 desainer profesional, 12 desainer muda, serta 12 desainer busana anak dijadwalkan tampil dalam 10 sesi fashion show selama empat hari pelaksanaan. Lebih dari 1.000 karya mode akan dipresentasikan di atas panggung, termasuk kehadiran desainer tamu spesial setiap harinya guna memperkuat daya tarik dan jejaring industri.
Kolaborasi Lintas Generasi
Ketua Harian Dekranasda DIY, GKBRAy Adipati Paku Alam, menekankan pentingnya sinergi antara desainer nasional dan pelaku IKM. Menurutnya, JogFW menjadi inkubator strategis untuk memastikan produk berbasis tradisi tetap relevan dan diminati generasi muda.
Ia menyebut, penguatan kualitas dan konsistensi kurasi menjadi kunci agar produk lokal mampu menembus pasar internasional.
“Kita ingin menunjukkan bahwa karya perajin dan desainer DIY memiliki standar dunia,” tegasnya.
Edukasi dan Ekspansi Pasar
Selain pameran dan peragaan busana, JogFW 2026 juga menghadirkan seminar, talkshow industri, kompetisi Young Fashion Designer, serta forum business matching yang mempertemukan pelaku usaha dengan buyer potensial.
Rangkaian Road to JogFW 2026 akan digelar secara berkelanjutan menjelang acara puncak di Agustus, sebagai upaya menjaga eksposur publik sekaligus memperluas jaringan pasar.
Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti, yang turut hadir dalam peluncuran, menyatakan dukungan penuh terhadap penguatan sektor industri kreatif sebagai pilar ekonomi daerah. Pemerintah berharap JogFW mampu menjadi etalase nasional sekaligus pintu masuk produk fashion Yogyakarta ke panggung dunia.
Dengan konsistensi dua dekade lebih, Jogja Fashion Week 2026 diproyeksikan bukan hanya sebagai agenda tahunan, melainkan simbol ketahanan budaya yang bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi global.




