Sinergi Puskesmas Imogiri 1 Tekan DBD dan Perkuat Layanan Kesehatan 2026

Sinergi Puskesmas Imogiri 1 Tekan DBD dan Perkuat Layanan Kesehatan 2026

BANTUL — Puskesmas Imogiri 1 menegaskan komitmennya dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui Lokakarya Lintas Sektor (Linsek) yang digelar di GPC Imogiri, Senin (9/2/2026). Forum strategis ini menjadi langkah konkret memperkuat kolaborasi lintas instansi dalam menekan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan mempercepat penanganan Tuberkulosis (TBC) di wilayah Imogiri, Kabupaten Bantul.

Kegiatan tersebut dihadiri Tim TPCB Dinas Kesehatan Bantul, Panewu Imogiri, Kapolsek, Danramil, para Lurah, hingga Dukuh di wilayah kerja Puskesmas Imogiri 1. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menegaskan bahwa pengendalian penyakit menular membutuhkan sinergi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat.

Survei Kepuasan Masyarakat Capai 96,3: Layanan Sangat Baik

Kepala Puskesmas Imogiri 1, dr. Titis Indri Wahyuni, memaparkan hasil Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) Semester II yang meraih skor 96,3 dengan kategori Sangat Baik. Capaian tersebut menjadi indikator kuat meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan di tingkat puskesmas.

Meski demikian, dr. Titis menegaskan komitmen peningkatan mutu layanan tetap menjadi prioritas.

“Kami masih mencermati waktu tunggu pelayanan sebagai ruang perbaikan. Optimalisasi pendaftaran online, transparansi estimasi durasi layanan, hingga penyediaan fasilitas pendukung seperti musik relaksasi dan monitor informasi layanan akan terus kami tingkatkan,” ujarnya.

Langkah ini sejalan dengan transformasi layanan kesehatan primer yang mengedepankan pelayanan cepat, transparan, dan ramah pasien.

DBD dan TBC Jadi Fokus Pengendalian 2026

Dalam forum tersebut, kasus DBD di Imogiri disebut sebagai salah satu yang tertinggi di Kabupaten Bantul. Selain DBD, angka TBC juga menjadi perhatian serius karena berpotensi menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang jika tidak tertangani optimal.

Panewu Imogiri, Slamet Santosa, SIP, MM, menekankan pentingnya gerakan bersama dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

“PSN harus dilakukan secara mandiri dan kolektif. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci memutus rantai penularan DBD,” tegasnya.

Upaya preventif berbasis komunitas dinilai efektif dalam menekan lonjakan kasus, terutama di musim penghujan yang berisiko meningkatkan populasi nyamuk Aedes aegypti.

Prioritas Program Kesehatan 2026 di Bantul

Tim TPCB Dinas Kesehatan Bantul yang diwakili Heru Purwanto, S.Far., Apt dan Dina Kristinawati, SKM, MHPM, memaparkan empat prioritas kesehatan tahun 2026, yakni:

Pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) secara rutin.

Percepatan penurunan stunting.

Pengendalian DBD secara berkelanjutan.

Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).

Menurut paparan narasumber, tren stunting di Imogiri menunjukkan penurunan, namun tetap memerlukan penguatan kolaborasi, termasuk dukungan program Corporate Social Responsibility (CSR) dan pendampingan intensif bagi balita berisiko.

Sebagai bentuk implementasi promotif dan preventif, kegiatan lokakarya ditutup dengan pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis bagi seluruh peserta. Langkah ini menjadi simbol komitmen Puskesmas Imogiri 1 dalam membangun budaya deteksi dini dan pencegahan penyakit di tingkat komunitas.

Melalui penguatan kolaborasi lintas sektor, inovasi layanan, serta dukungan pemerintah dan masyarakat, Puskesmas Imogiri 1 optimistis target pengendalian DBD, penurunan stunting, serta peningkatan kualitas layanan kesehatan tahun 2026 dapat tercapai secara berkelanjutan.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *