muhammadiyah dinilai jadi pilar peradaban dan penggerak ekonomi umat

muhammadiyah dinilai jadi pilar peradaban dan penggerak ekonomi umat

Sleman — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan peran strategis Muhammadiyah sebagai kekuatan penting dalam membangun peradaban sekaligus menggerakkan ekonomi umat di Indonesia.

Organisasi yang telah berusia lebih dari satu abad itu dinilai mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai dasar kebangsaan dan keumatan.

Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga saat menghadiri Dialog Menko Perekonomian bersama warga Muhammadiyah yang digelar di Hyatt Regency Yogyakarta, Jumat (6/2/2026).

Dalam kesempatan itu, ia menyebut Muhammadiyah tidak hanya berfungsi sebagai gerakan dakwah dan sosial, tetapi juga menjadi pilar penting dalam memperkuat struktur ekonomi nasional.

“Muhammadiyah adalah organisasi yang telah menjadi pilar bagi peradaban dan ekonomi umat di Indonesia,” ujar Airlangga Hartarto di hadapan peserta dialog.

Menurut Airlangga, kontribusi Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, kesehatan, hingga pengembangan usaha ekonomi telah memberikan dampak nyata bagi ketahanan ekonomi masyarakat.

Ia menilai kolaborasi antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan seperti Muhammadiyah menjadi kunci dalam menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif.

Dalam konteks makro, Airlangga juga menyampaikan optimisme terhadap kinerja perekonomian Indonesia ke depan. Ia berharap pertumbuhan ekonomi nasional dapat melampaui capaian tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 5,11 persen secara year-on-year.

“Dengan sinergi yang kuat, kita berharap pertumbuhan ekonomi ke depan bisa lebih tinggi dibandingkan tahun kemarin,” jelasnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Ketua Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Mohammad Zainal Fatah, menjelaskan bahwa arah pengembangan ekonomi Muhammadiyah berlandaskan pada Teologi Al-Maun.

Prinsip tersebut menekankan pentingnya inklusi dan keberpihakan kepada masyarakat kecil sebagai fondasi utama aktivitas ekonomi persyarikatan.

“Gagasan pokoknya mendasari pada teologi Al-Maun, yang intinya adalah inklusi. Manfaat ekonomi harus dirasakan hingga ke akar rumput,” kata Zainal.

Ia menambahkan, semangat kemandirian dan jiwa kewirausahaan telah lama menjadi bagian dari identitas warga Muhammadiyah. Hal tersebut tercermin dalam berbagai unit usaha dan aktivitas ekonomi yang dikelola secara kolektif di berbagai daerah.

Saat ini, Muhammadiyah terus memperkuat ekosistem ekonomi jangka panjang melalui pengembangan pusat-pusat kegiatan ekonomi yang tersebar di seluruh Indonesia.

Pendekatan tersebut diarahkan untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan, mandiri, dan berkontribusi bagi kepentingan nasional.

Beberapa prinsip utama dalam penguatan ekonomi Muhammadiyah meliputi pengembangan usaha berbasis kolektivitas, pengurangan ketergantungan pada pihak eksternal, serta memastikan setiap aktivitas bisnis memiliki dampak positif bagi masyarakat dan pembangunan nasional.

“Kita ingin tumbuh bersama melalui kegiatan ekonomi kolektif, bukan perorangan, sehingga manfaatnya bisa dirasakan secara luas,” pungkas Zainal Fatah.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *