Yogyakarta – Komitmen pelestarian budaya Jawa terus diperkuat melalui kolaborasi lintas komunitas. CEO Sendangwangi Plencing, Ir. KP. Nurdiantoro Dharmaningrat, menyatakan dukungannya terhadap rencana silaturahmi Komunitas Pria Bersurjan yang akan digelar pada Sabtu, 7 Februari 2026, di Yogyakarta.
Kegiatan ini menjadi ruang dialog budaya yang bertujuan menggali, merawat, serta mengaktualisasikan nilai-nilai adat Jawa agar tetap relevan di tengah dinamika zaman, khususnya bagi generasi muda.
Surjan sebagai identitas dan nilai luhur
Dalam agenda tersebut, Nurdiantoro Dharmaningrat dijadwalkan melakukan penyerahan simbolis busana surjan kepada perwakilan generasi penerus. Prosesi ini dimaknai bukan sekadar seremoni, melainkan pesan moral tentang kesinambungan nilai budaya antara generasi senior dan generasi muda.
“Surjan bukan hanya pakaian tradisional, tetapi simbol identitas dan karakter orang Jawa yang sarat makna,” ujar Nurdiantoro Dharmaningrat saat memberikan keterangan.
Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya harus dipahami secara menyeluruh, tidak berhenti pada busana semata, tetapi mencakup berbagai aspek kehidupan, antara lain tata laku, tata busana, tata boga, tata wicara, serta tata wewangunan sebagai satu kesatuan nilai budaya.
Menjaga akar budaya di tengah modernisasi
Menurut Nurdiantoro Dharmaningrat, tantangan terbesar pelestarian adat saat ini adalah menjaga relevansi nilai luhur di tengah arus modernisasi. Oleh karena itu, sinergi antara komunitas budaya dan pelaku usaha berbasis kearifan lokal menjadi penting untuk menciptakan ruang aktualisasi budaya yang berkelanjutan.
Ia mengangkat filosofi Jawa “oyot ojo nganti pedot” sebagai prinsip dasar gerakan budaya tersebut.
“Budaya adalah akar jati diri bangsa. Jika akarnya terputus, maka karakter dan nilai kebangsaan akan melemah,” tegasnya.
Kolaborasi budaya pasca-Lebaran
Dukungan yang diberikan Sendangwangi Plencing disebut sebagai langkah awal dari rangkaian gerakan budaya yang lebih luas. Pasca-Lebaran 2026, direncanakan akan digelar agenda kolaborasi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dengan mengusung tema Surjan, Kebaya, dan semangat Hari Kartini.
Agenda tersebut diharapkan menjadi medium edukasi budaya sekaligus penguatan identitas nasional, khususnya bagi generasi muda, agar tradisi Jawa tetap hidup, adaptif, dan membumi di tengah masyarakat.
Melalui kolaborasi ini, Nurdiantoro Dharmaningrat menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pelestarian adat Jawa sebagai bagian dari kontribusi nyata dalam menjaga warisan budaya bangsa.




