Yogyakarta – “Ya ya ya ya… bajigur!” Seruan khas itu kerap terdengar dari Otok Bima Sidarta di sela latihan maupun obrolan santai. Ungkapan tersebut menjadi ciri personal sekaligus simbol semangat riang yang selalu ia bawa dalam perjalanan panjangnya di dunia seni karawitan.
Di usia 65 tahun, Otok Bima Sidarta—atau yang akrab disapa Pak Otok—masih aktif berkarya dan membina generasi muda. Putra sulung maestro seni Bagong Kussudiardja ini dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam pelestarian sekaligus pengembangan karawitan dan seni pertunjukan di Yogyakarta.
Melalui Pusat Latihan Karawitan (PLK) dan Pusat Latihan Tari (PLT), Pak Otok tak hanya menjaga warisan seni tradisi, tetapi juga mendorong inovasi agar gamelan dan seni Jawa tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Duta Karawitan ke Lima Benua
Dedikasinya di dunia seni telah mengantarkan Pak Otok ke berbagai panggung internasional. Ia tercatat membawa karawitan dan gamelan Indonesia ke sejumlah negara di Eropa seperti Jerman, Belanda, Swiss, dan Italia. Tak hanya itu, Amerika Serikat hingga negara-negara Asia seperti Jepang, Korea, dan Filipina juga menjadi bagian dari jejak keseniannya.
Salah satu pencapaian penting dalam karier internasionalnya adalah keterlibatannya dalam delegasi seni Indonesia pada ajang Olimpiade Show. Penampilan tersebut menjadi bukti bahwa seni tradisi Nusantara mampu tampil sejajar dan mendapat apresiasi di forum global.
Filosofi Riang dalam Berkesenian
Meski namanya dikenal luas hingga mancanegara, Pak Otok tetap tampil sederhana dan penuh humor. Seruan “bajigur” kerap ia lontarkan sebagai ekspresi spontan—baik saat terkejut, gembira, maupun untuk mencairkan suasana.
Bagi Pak Otok, seni tidak boleh terasa kaku. Menurutnya, karawitan harus dibangun dengan rasa kebersamaan dan kegembiraan. Filosofi itu pula yang ia tanamkan kepada para muridnya di PLK dan PLT.
“Seni itu harus riang, seperti kawan. Kalau suasananya hidup, kreativitas akan tumbuh,” ujarnya.
Perjalanan 65 tahun Otok Bima Sidarta menjadi cermin bahwa ketekunan, konsistensi, dan sikap membumi mampu membawa seni tradisi Indonesia melanglang buana tanpa kehilangan akar budayanya.




