BANTUL – Kelompok Difabel Kelurahan (KDK) Bangunkaraharjan terus menunjukkan peran strategisnya sebagai motor penggerak pemberdayaan difabel dan lansia di Kelurahan Bangunjiwo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul.
Organisasi yang resmi berdiri pada Desember 2023 ini hadir sebagai ruang inklusif untuk mendorong kemandirian ekonomi dan partisipasi sosial kelompok rentan.
Bendahara KDK Bangunkaraharjan, Sirkun, mengatakan pembentukan kelompok ini dilandasi kebutuhan akan wadah khusus yang mampu menjembatani aspirasi serta potensi penyandang disabilitas dan lansia di tingkat kelurahan.
“Anggota KDK saat ini kurang lebih mencapai 300 orang, terdiri dari difabel dan lansia. Tujuan utama kami adalah membangun kemandirian, bukan ketergantungan,” ujar Sirkun saat ditemui di Bantul.
Sebagai langkah konkret, KDK Bangunkaraharjan mengembangkan program peningkatan keterampilan berbasis potensi lokal.
Melalui kolaborasi lintas sektor, salah satunya dengan STIKES Surya Global dalam program pengabdian masyarakat, berbagai pelatihan produktif digelar secara berkelanjutan.
Pelatihan tersebut meliputi pembuatan sabun cuci rumah tangga yang dirancang agar mudah diaplikasikan oleh difabel, serta pengolahan pangan lokal seperti keripik pisang dan singkong. Program ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk sekaligus membuka peluang usaha rumahan.
“Kami ingin anggota punya keterampilan yang aplikatif dan bisa langsung dimanfaatkan untuk menopang ekonomi keluarga,” jelas Sirkun.
Tidak hanya bergerak di sektor ekonomi, KDK Bangunkaraharjan juga aktif mendorong kebijakan pembangunan yang inklusif.
Pengurus KDK rutin dilibatkan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) kelurahan untuk memastikan kebutuhan difabel dan lansia masuk dalam prioritas perencanaan desa.
“Kami ikut menyampaikan aspirasi terkait bantuan sosial dan pembangunan fisik yang ramah difabel. Ini bagian dari hak kami sebagai warga,” tambahnya.
Meski pada tahap awal mendapat pendampingan dari lembaga sosial seperti Yayasan Cikal, kini KDK Bangunkaraharjan mulai mengelola organisasi secara mandiri.
Dukungan anggaran kelurahan serta semangat gotong royong menjadi modal utama untuk memperkuat keberlanjutan program.
Keberadaan KDK Bangunkaraharjan dinilai sejalan dengan upaya pemerintah dalam mewujudkan pembangunan inklusif dan berkeadilan sosial.
Organisasi ini tidak hanya mengangkat martabat difabel dan lansia, tetapi juga memperkuat peran mereka sebagai subjek pembangunan di tingkat lokal.




