Bantul, Berita Top Line – Transformasi digital Indonesia terus dipacu pemerintah sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional. Digitalisasi tidak lagi dipandang sebagai respons sesaat terhadap perkembangan teknologi global, melainkan sebagai langkah terencana untuk memperkuat kedaulatan data, daya saing ekonomi, dan ketahanan nasional.
Arah kebijakan digital nasional saat ini bertumpu pada penguatan infrastruktur, pengembangan inovasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta investasi strategis yang berkelanjutan. Ketiga elemen tersebut menjadi fondasi agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pelaku utama dalam ekosistem digital global.
Salah satu fokus utama adalah lokalisasi infrastruktur digital. Pemerintah mendorong pengembangan pusat data, layanan cloud nasional, serta teknologi edge computing di dalam negeri guna memastikan data dan proses digital tetap berada di wilayah Indonesia.
Selain infrastruktur, penguatan riset dan inovasi AI juga menjadi perhatian serius. AI dinilai tidak sekadar alat bantu efisiensi, tetapi penggerak baru pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa. Tanpa ekosistem riset yang kuat, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar teknologi global.
Investasi strategis pun diarahkan tidak hanya pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pengembangan talenta digital, penguatan industri teknologi, dan integrasi sistem lintas sektor. Langkah ini ditempuh untuk memastikan transformasi digital berjalan berkelanjutan.
Namun, di tengah percepatan tersebut, tantangan keamanan siber menjadi isu krusial. Pemanfaatan teknologi AI dinilai dapat memperkuat sistem pertahanan digital, sekaligus berpotensi menimbulkan ancaman baru jika tidak dikelola dengan baik.
Kesadaran akan pentingnya keamanan siber ini tercermin dalam pelaksanaan Cybersecurity Offline Workshop #13 AI-Security yang digelar oleh Balai Pelatihan Sumber Daya Manusia Komunikasi dan Digital (BPSDM Komdigi) Yogyakarta bersama Komunitas Cyberkarta.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu (31/1/2026) pukul 08.30–13.30 WIB di Kantor BPSDM Komdigi Yogyakarta, Jalan Imogiri Barat KM 5, Bangunharjo, Sewon, Kabupaten Bantul, DIY.
Workshop ini menjadi wadah pembelajaran dan kolaborasi antara pemerintah, komunitas siber, dan masyarakat dalam meningkatkan kesiapan menghadapi ancaman keamanan digital di era AI.
Mengusung tema AI-Security, forum ini membahas isu keamanan siber, etika pemanfaatan AI, tata kelola teknologi, serta kesiapan sumber daya manusia menghadapi sistem kecerdasan buatan yang semakin otonom.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria hadir sebagai keynote speaker. Kehadirannya menegaskan bahwa isu keamanan siber telah menjadi bagian strategis dari agenda nasional transformasi digital.
Dalam forum tersebut ditekankan bahwa transformasi digital tidak dapat berjalan tanpa sistem keamanan yang kuat. Keamanan siber dipandang sebagai prasyarat utama untuk menjaga kepercayaan publik, stabilitas industri, serta keberlanjutan pembangunan digital nasional.
Isu keamanan digital juga mendapat perhatian dari sektor pariwisata dan industri rekreasi. Sekretaris Umum Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) DPD DIY, Agus Budi Rachmanto, menilai keamanan siber kini menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan konsumen.
“Digitalisasi di industri pariwisata bukan hanya soal promosi atau sistem tiket daring. Yang paling penting adalah kepercayaan pengunjung, dan itu hanya bisa terbangun jika sistem digitalnya aman,” ujar Agus.
Menurut Agus, pemanfaatan AI dalam industri pariwisata, seperti analisis perilaku wisatawan dan personalisasi layanan, harus dibarengi dengan kesiapan keamanan siber. Jika tidak, digitalisasi justru berpotensi menimbulkan risiko baru.
Ia menilai kegiatan seperti Cybersecurity Offline Workshop #13 AI-Security memiliki nilai strategis karena mempertemukan dunia kebijakan, teknologi, dan sektor usaha secara langsung.
“Pelaku industri membutuhkan ruang belajar bersama. Banyak yang belum sepenuhnya memahami risiko siber, padahal dampaknya bisa langsung ke reputasi dan keberlanjutan usaha,” katanya.
Agus juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem digital nasional yang aman. Menurutnya, keamanan siber bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau pelaku teknologi semata.
“Ini kerja kolektif. Ketika SDM semakin sadar dan terlatih, ekosistem digital Indonesia akan semakin kuat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa transformasi digital sejati bukan soal kecepatan adopsi teknologi, melainkan kesiapan menjaga keberlanjutannya. “Keamanan siber bukan penghambat inovasi, tapi penjaga masa depan,” pungkasnya.




