Nanda Afrilliansyah, Konsistensi Komika Jogja Menemukan Katarsis di Panggung Stand-Up

Nanda Afrilliansyah, Konsistensi Komika Jogja Menemukan Katarsis di Panggung Stand-Up

YOGYAKARTA – Nama Nanda Afrilliansyah dikenal sebagai salah satu figur penting dalam perjalanan awal komunitas stand-up comedy di Yogyakarta. Di tengah dinamika dunia kreatif, ia menunjukkan bahwa konsistensi dan kejujuran berekspresi menjadi kunci bertahan di industri komedi.

Nanda Afrilliansyah, komika berusia 38 tahun, tumbuh bersama budaya humor sejak usia dini. Ia mengaku ketertarikannya pada komedi bermula dari kebiasaan mendengarkan kaset lawak Warkop DKI milik almarhum ayahnya. Dari situlah kepekaan terhadap humor mulai terbentuk.

Sebelum aktif di panggung komedi, Nanda sempat meniti karier sebagai penyiar radio selama periode 2014 hingga 2019. Pengalaman tersebut memperkaya kemampuan komunikasi dan pengolahan materi yang kini menjadi modal penting dalam stand-up comedy.

Keterlibatan Nanda di dunia komedi tunggal dimulai pada akhir 2011. Ia tercatat sebagai bagian dari generasi awal Stand-Up Indo Jogja dan pernah dipercaya memimpin komunitas tersebut sebagai ketua pada periode 2013–2014.

Menurut Nanda, fase awal komunitas dipenuhi semangat kolektif untuk membangun ekosistem komedi yang sehat. Ia menilai peran komunitas sangat penting sebagai ruang belajar, berbagi, dan menjaga etika berkesenian di atas panggung.

Kesibukan profesional sempat membuatnya vakum dari dunia stand-up. Namun sejak awal 2024, Nanda kembali aktif mengikuti open mic di berbagai panggung lokal Yogyakarta.

“Panggung komedi adalah ruang paling jujur untuk mengekspresikan diri. Di situ saya bisa melepas penat dari rutinitas pekerjaan formal,” ujar Nanda saat ditemui.

Saat ini, Nanda berprofesi di sektor perbankan. Meski demikian, ia tetap memandang stand-up comedy sebagai medium katarsis dan penyeimbang kehidupan profesional.

Ia menegaskan bahwa materi komedinya selalu berangkat dari pengalaman pribadi dan pengamatan sosial. “Seni yang saya kuasai adalah menulis komedi dari hal-hal yang saya alami sendiri,” katanya.

Nanda juga tidak mempermasalahkan harus memulai kembali dari panggung kecil, meskipun banyak rekan seangkatannya telah dikenal secara nasional. Baginya, proses adalah bagian penting dari perjalanan kreatif.

“Memulai itu memang terasa asing, tapi yang terpenting adalah jangan berhenti. Ketika berhenti, progres juga ikut berhenti,” tegasnya.

Melalui konsistensi dan sikap rendah hati, Nanda Afrilliansyah menjadi contoh bahwa dunia komedi bukan semata soal popularitas, melainkan keberlanjutan proses, integritas berkarya, dan manfaat personal maupun sosial dari sebuah panggung tawa.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *