Parijan Keris, 25 Tahun Setia Rawat Tradisi Tosan Aji di Banyusumurup

Parijan Keris, 25 Tahun Setia Rawat Tradisi Tosan Aji di Banyusumurup

Bantul – Di tengah derasnya arus modernisasi, eksistensi keris sebagai warisan budaya Nusantara masih terus dijaga. Salah satunya melalui tangan Parijan, perajin keris asal Banyusumurup, Girirejo, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang telah mendedikasikan hampir seperempat abad hidupnya untuk melestarikan seni tosan aji.

Parijan menuturkan, ketertarikannya pada dunia perkerisan bukanlah hal baru. Keahlian menempa keris ia peroleh secara turun-temurun dari keluarganya yang telah berkecimpung sejak 1986.

Tradisi tersebut diwariskan dari generasi ke generasi hingga kini tetap ia tekuni dengan penuh konsistensi.

“Ini warisan keluarga. Dari simbah, bapak, lalu ke saya. Sudah hampir 25 tahun saya menekuni kerajinan keris,” kata Parijan saat ditemui di bengkelnya.

Menurut Parijan, keris tidak semata-mata identik dengan hal mistis seperti anggapan sebagian masyarakat. Ia menilai keris memiliki nilai filosofis dan budaya yang mendalam, sekaligus fungsi yang relevan dengan perkembangan zaman.

Keris, kata dia, merupakan simbol identitas dan karakter pemiliknya, bagian penting dalam upacara adat, serta karya seni bernilai tinggi. Di era modern, keris juga banyak diminati sebagai benda koleksi maupun elemen dekorasi bernuansa budaya.

“Yang paling utama, keris adalah warisan adiluhung yang harus dijaga agar tidak punah atau diklaim pihak lain,” ujarnya.

Meski lekat dengan tradisi, Parijan tak menutup diri terhadap perkembangan teknologi. Produk-produk keris buatannya kini dipasarkan melalui berbagai platform media sosial seperti Facebook, Instagram, hingga TikTok.

Bengkel kerjanya pun telah terdaftar di Google Maps, memudahkan kolektor maupun pecinta keris untuk berkunjung langsung ke Banyusumurup.

Selain sebagai perajin, Parijan juga aktif dalam berbagai peran sosial dan budaya. Ia tercatat sebagai Ketua Paguyuban Pamorsuminar, abdi dalem Keraton Yogyakarta, serta menjalankan tugas sebagai karyawan di instansi setempat.

Parijan berharap generasi muda semakin tertarik untuk mengenal dan mempelajari budaya leluhur, khususnya seni pembuatan keris. Regenerasi, menurutnya, menjadi kunci agar pengetahuan dan nilai-nilai budaya tersebut tetap hidup di masa depan.

“Jangan sampai kita tertinggal, apalagi sampai budaya sendiri hilang. Sangat disayangkan kalau tidak dilestarikan,” pungkasnya.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *