Dedikasi Pak Didot Lestarikan Wayang Kulit dari Bantul

Dedikasi Pak Didot Lestarikan Wayang Kulit dari Bantul

Bantul, Berita Top Line – Di tengah arus modernisasi, pelestarian budaya tradisional masih terus dijaga oleh para perajin lokal. Salah satunya dilakukan Ponidi Didot atau yang akrab disapa Pak Didot, pemilik workshop Karya Mandiri atau Didot Wayang di Dusun Nogosari 2, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

Pak Didot menekuni kerajinan wayang kulit secara serius sejak membuka workshop pada 2012. Namun, ketertarikannya pada dunia pewayangan telah tumbuh sejak kecil. Ia mengaku mulai belajar membuat wayang sejak duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar.

Bagi Pak Didot, membuat wayang bukan sekadar aktivitas seni. Kerajinan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

“Selain melestarikan budaya dan meneruskan jejak leluhur, wayang juga memiliki nilai ekonomi. Ini menjadi mata pencaharian kami,” ujar Pak Didot saat ditemui di workshop-nya.

Sebelum fokus menjadi perajin wayang, Pak Didot sempat merantau ke sejumlah daerah seperti Bali, Kalimantan, hingga Jakarta. Ia juga pernah mencoba berbagai jenis usaha, termasuk berdagang burung. Namun, panggilan untuk kembali menekuni kerajinan tradisional membuatnya pulang ke Bantul dan mengembangkan usaha wayang kulit secara mandiri.

Tak hanya berkarya, Pak Didot juga menaruh harapan besar pada generasi muda agar tidak melupakan budaya lokal. Ia menilai dukungan anak muda sangat penting untuk keberlangsungan seni tradisi.

“Cintailah budaya di daerah kita. Ada wayang, batik, dan kesenian lain. Yang penting mau mencintai, melestarikan, dan mendukung seniman di sekitar,” katanya.

Meski bergerak di bidang seni tradisional, Didot Wayang juga mengikuti perkembangan teknologi. Pak Didot memasarkan produknya melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook. Lokasi workshop-nya pun telah terdaftar di Google Maps untuk memudahkan pengunjung.

Karya Mandiri kini tak hanya menjadi tempat produksi wayang kulit, tetapi juga menjadi simbol keteguhan seniman lokal dalam menjaga identitas budaya bangsa di tengah perubahan zaman.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *