Ketua Komunitas Pria Bersurjan, Surjan Bukan Kostum Tapi Identitas Budaya

Ketua Komunitas Pria Bersurjan, Surjan Bukan Kostum Tapi Identitas Budaya

Bantul, Berita Top Line – Di tengah derasnya arus modernisasi, Komunitas Pria Bersurjan hadir sebagai gerakan kultural yang mendorong pelestarian busana tradisional Jawa.

Ketua Komunitas Pria Bersurjan, Saifudin Yuhri Hafid, menegaskan bahwa surjan bukan sekadar pakaian adat, melainkan simbol jati diri dan nilai luhur pria Jawa.

Saifudin menjelaskan, komunitas yang dipimpinnya dibentuk bukan untuk kepentingan fesyen atau hobi semata.

Menurutnya, Pria Bersurjan merupakan ruang perjuangan budaya yang bertujuan menghidupkan kembali nilai-nilai adab, kesantunan, dan spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari.

“Surjan itu bukan kostum. Ia adalah identitas. Ketika dipakai, ada nilai tanggung jawab moral dan pengingat untuk bersikap santun dalam laku hidup,” kata Saifudin, Jumat (23/1/2026).

Ia menuturkan, secara historis surjan dikenal sebagai busana takwa yang memiliki keterkaitan erat dengan ajaran Sunan Kalijaga. Filosofi tersebut, lanjut Saifudin, menjadi landasan utama komunitas dalam membangun kesadaran budaya di tengah masyarakat.

Komunitas Pria Bersurjan juga menaruh perhatian besar pada edukasi generasi muda. Saifudin menyebut masih kuatnya stigma bahwa pakaian adat identik dengan kesan kuno dan hanya pantas dikenakan dalam acara seremonial.

“Kami ingin mematahkan anggapan itu. Surjan bisa dikenakan dalam aktivitas sosial sehari-hari tanpa kehilangan makna dan martabatnya,” ujarnya.

Beberapa misi utama yang diusung komunitas ini antara lain mendorong penggunaan surjan secara wajar di ruang publik, memberikan edukasi sejarah dan pakem busana Jawa, serta membangun solidaritas lintas profesi dan latar belakang sosial.

Untuk diketahui, Komunitas Pria Bersurjan berpusat di Nusupan, Trihanggo, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Lokasi tersebut menjadi basecamp kegiatan diskusi budaya, edukasi sejarah, hingga aktivitas sosial kemasyarakatan.

Saifudin berharap gerakan ini dapat menginspirasi daerah lain di Indonesia untuk kembali mengangkat busana adat sebagai simbol kekuatan identitas bangsa.

“Budaya adalah benteng terakhir. Kalau hari ini kita abai, generasi mendatang hanya akan mengenal warisan leluhur dari buku, bukan dari kehidupan nyata,” tegasnya.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *