BANTUL, BERITA TOP LINE – Di sebuah kedai kopi di kawasan Sewon, Bantul, obrolan malam mengalir santai namun sarat makna. Di bawah cahaya redup Lanjay Kopi, seorang pria asal Serui, Papua, berbagi kisah perjalanannya merantau ke Yogyakarta hingga menemukan panggung stand up comedy sebagai ruang pelarian sekaligus penyembuhan.
Pria itu adalah Ode, yang kini dikenal dengan nama panggung Ode Sensei. Ia mengungkapkan bahwa kedatangannya ke Yogyakarta pada awalnya bertujuan menempuh pendidikan di Universitas Islam Indonesia (UII). Namun, semangat wirausaha yang kuat membuat dunia bisnis justru lebih dominan dalam kesehariannya.
Selama menetap di Yogyakarta, Ode mencoba berbagai usaha. Mulai dari budidaya ikan lele, membuka rumah makan, hingga merintis usaha konveksi yang masih bertahan hingga sekarang. Dunia usaha sempat memberinya harapan besar, sebelum akhirnya dihantam pandemi COVID-19.
Pandemi dan Titik Balik Kehidupan
Pandemi menjadi fase terberat dalam hidup Ode. Sejumlah usaha yang ia bangun runtuh satu per satu. Tekanan ekonomi dan mental tak terhindarkan, hingga membuatnya berada di titik stres yang cukup serius.
“Waktu COVID, usaha bangkrut semua. Stres berat, akhirnya cari pelarian yang positif,” kata Ode mengenang masa itu.
Pelarian tersebut justru datang dari panggung stand up comedy. Awalnya hanya sebagai hiburan, namun perlahan menjadi ruang untuk menumpahkan keresahan dan pengalaman hidupnya. Sejak 2022, Ode resmi bergabung dengan komunitas Stand Up Indo Jogja.
Baginya, kegagalan saat melucu di atas panggung bukanlah masalah besar. “Kalau open mic gagal, ruginya cuma satu malam. Dibanding bangkrut usaha, itu jauh lebih ringan,” ujarnya.
Merambah Dunia Digital
Tak berhenti di panggung luring, Ode mulai memperluas langkah ke ranah digital. Sejak awal 2024, ia aktif sebagai streamer di TikTok dan YouTube melalui akun @ode.sensei. Menariknya, konten yang ia bangun tak melulu soal hiburan.
Ode juga memanfaatkan platform digital untuk berbagi edukasi, khususnya terkait dunia streaming dan teknis siaran menggunakan OBS. Ia melihat ekosistem ekonomi kreatif digital di Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang.
“Menurut saya, ini masa emasnya. Indonesia sekarang mirip Amerika 10 tahun lalu. Siapa pun bisa mulai, asal punya karakter,” tuturnya.
Kini, Ode Sensei terus melangkah, menjadikan pengalaman pahit sebagai bahan tawa, dan menjadikan panggung—baik offline maupun online—sebagai ruang tumbuh yang baru.

