​Waspada! 40 Persen Wilayah Wukirsari Bantul Rawan Longsor, Relawan Ingatkan Warga Siaga

​Waspada! 40 Persen Wilayah Wukirsari Bantul Rawan Longsor, Relawan Ingatkan Warga Siaga

TOPLINE, ​BANTUL (DIY) – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Bantul mulai memicu terjadinya bencana hidrometeorologi. Sebuah kejadian tanah longsor dilaporkan terjadi di wilayah Pucung, Kelurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Bantul pada Minggu (11/1) siang sekitar pukul 14.00 WIB.

​Relawan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Bima Sakti Wukirsari, Aris Riswanto, mengonfirmasi bahwa pergerakan tanah tersebut dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi di kawasan tersebut.

​”Kemarin sore, pergerakan sekitar jam 2 siang saat hujan deras. Ini merupakan kejadian longsor pertama di wilayah Pucung sejak memasuki musim penghujan tahun ini,” ujar Aris saat memberikan keterangan di lokasi kejadian.

​Kawasan Zona Merah Longsor dan Banjir
​Aris mengungkapkan bahwa wilayah Wukirsari memiliki tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi. Berdasarkan pemetaan, setidaknya 40 persen di antaranya merupakan daerah rawan bencana, terutama tanah longsor.

​”Wilayah yang paling rawan itu mencakup RT 01, 02, 03, dan 04 karena kondisi tanahnya memang rawan longsor. Bahkan, warga di RT 04 sebelumnya sudah pernah direlokasi ke perumahan yang lebih aman,” jelasnya.

​Selain ancaman longsor di perbukitan, kerawanan banjir juga mengintai wilayah dataran. Aris menyebutkan bahwa wilayah Nogosari menjadi titik yang sering terdampak banjir setiap kali musim penghujan tiba. Hal ini menjadi perhatian serius bagi tim relawan untuk terus memantau debit air dan kondisi drainase di wilayah tersebut.

Sinergi Lintas Sektor dalam Penanganan Bencana

​Proses pembersihan material longsor di Pucung tidak dilakukan sendirian. Aris menekankan adanya gotong royong yang kuat antara relawan lokal, warga, dan aparat keamanan. Penanganan di lapangan turut dibantu oleh:
​Warga Lokal: Secara swadaya membantu proses pembersihan.
​Ormas Garda (Relawan Pucung): Berada di bawah naungan FPRB Bima Sakti Wukirsari.
​Babinsa & Bhabinkamtibmas: Memberikan pengamanan serta dukungan moral di lokasi.

​”Kehadiran pihak TNI (Babinsa) dan Polri sangat berarti. Membantu dalam gotong royong itu sudah menjadi suntikan semangat bagi warga dan relawan,” tegas Aris.


​Imbauan: Stop Buang Sampah di Saluran Air

​Sebagai langkah antisipasi banjir dan longsor, FPRB Wukirsari terus melakukan sosialisasi dan mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi lingkungan sekitar. Aris memberikan imbauan khusus terkait kebiasaan masyarakat dalam mengelola limbah.

​”Kami memohon dengan sangat agar masyarakat tidak lagi membuang sampah di saluran air atau selokan,” tegas Aris. Pengondisian saluran air yang bersih sangat krusial agar aliran air tidak tersumbat yang dapat memicu banjir luapan, terutama di wilayah rawan seperti Nogosari.

​Selain itu, warga juga diingatkan untuk tetap waspada terhadap potensi pohon tumbang. “Jika ada pohon besar di dekat rumah, minimal dipangkas dahan-dahannya untuk mengurangi beban guna meminimalisir potensi bahaya,” tambahnya.
​Peran FPRB Bima Sakti

​FPRB Bima Sakti Wukirsari merupakan garda terdepan dalam penanggulangan bencana di tingkat kelurahan yang berkoordinasi langsung dengan BPBD Kabupaten Bantul dan Basarnas. Kantor pusat FPRB Wukirsari sendiri berlokasi di Singosaren, tepat di depan rumah Lurah Wukirsari.

​Masyarakat diimbau untuk segera melaporkan jika melihat tanda-tanda rekahan tanah, potensi pohon tumbang, atau luapan air di wilayah masing-masing guna mencegah jatuhnya korban jiwa.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *