TOPLINE, IMOGIRI (DIY) – Bale Kajenar yang terletak di Plencing, Sindet, Wukirsari, Imogiri, menjadi saksi bisu kemeriahan perayaan seni tradisi dan religiusitas selama dua hari berturut-turut pada 6 dan 7 Januari 2026. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan menuju puncak peresmian atau “Gebyakan” kawasan tersebut.
Kemeriahan Karawitan dan Tari di Hari Pertama
Pada Selasa, 6 Januari 2026, suasana khidmat musik gamelan memenuhi udara Imogiri. Acara dibuka dengan penampilan Karawitan Mulyo Laras dari Kaputren Pleret I pada pukul 13.00 – 15.00 WIB. Alunan musik tradisional ini kemudian dilanjutkan oleh kelompok Karawitan Purbo Karsa dari Kaputren Pleret II yang tampil mulai pukul 15.00 WIB hingga selesai.
Tak hanya musik, malam harinya Bale Kajenar dimeriahkan oleh kelincahan gerak penari cilik dalam pertunjukan Tari Anak-anak Plencing yang dimulai pukul 19.30 WIB. Mas Didik, selaku Sekretaris Bale Kajenar, menyebutkan beberapa tarian yang dibawakan antara lain Tari Caping Ayu dan Tari Rodat yang melibatkan sekitar 70 hingga 80 warga lokal.
Kekhusyukan Hari Kedua: Tahlilan dan Tradisi “Singiran”
Memasuki hari kedua, Rabu, 7 Januari 2026, fokus kegiatan beralih pada aspek spiritual dan latihan seni. Mas Didik menjelaskan bahwa agenda hari tersebut meliputi:
Latihan Seni: Sejak pagi hingga sore, dilaksanakan berbagai latihan seperti Tari Srimpi, Dalang Anak, dan persiapan upacara Bregodo untuk acara puncak esok hari.
Kegiatan Religi: Menjelang malam, sekitar 125 warga berkumpul untuk melaksanakan Tahlilan yang dipadukan dengan tradisi Singiran.
”Singiran itu seperti lagu-lagu atau pujian dalam bahasa Jawa yang mengiringi prosesi tahlilan. Kami menyebutnya ‘nyingiri’, sebuah cara khas warga di sini untuk melantunkan doa,” ujar Mas Didik dalam rekaman wawancaranya.
Menuju Puncak Acara “Gebyakan”
Rangkaian acara ini merupakan persiapan matang untuk acara puncak yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 8 Januari 2026. Mas Didik membocorkan bahwa acara “Gebyakan” atau peresmian tersebut akan dihadiri oleh sejumlah tokoh penting.
Rencananya, acara akan dibuka dengan pemotongan pita oleh Bapak Nurdi. Selain itu, undangan juga telah dikirimkan kepada perwakilan Kementerian Kebudayaan, para Bupati dari wilayah Yogyakarta dan Jawa Timur, serta pejabat dari Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY maupun Kabupaten Bantul.
Selain pertunjukan seni, para pengunjung juga dapat menikmati Pameran Lukisan hasil karya para seniman lokal Yogyakarta dan sekitarnya yang telah dipajang sejak hari pertama. Perhelatan ini diharapkan menjadi momentum kuat untuk melestarikan budaya sekaligus mempererat silaturahmi masyarakat di wilayah Imogiri dan sekitarnya
IMOGIRI – Bale Kajenar yang terletak di Plencing, Sindet, Wukirsari, Imogiri, menjadi saksi bisu kemeriahan perayaan seni tradisi dan religiusitas selama dua hari berturut-turut pada 6 dan 7 Januari 2026. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan menuju puncak peresmian atau “Gebyakan” kawasan tersebut.
Kemeriahan Karawitan dan Tari di Hari Pertama
Pada Selasa, 6 Januari 2026, suasana khidmat musik gamelan memenuhi udara Imogiri. Acara dibuka dengan penampilan Karawitan Mulyo Laras dari Kaputren Pleret I pada pukul 13.00 – 15.00 WIB. Alunan musik tradisional ini kemudian dilanjutkan oleh kelompok Karawitan Purbo Karsa dari Kaputren Pleret II yang tampil mulai pukul 15.00 WIB hingga selesai.
Tak hanya musik, malam harinya Bale Kajenar dimeriahkan oleh kelincahan gerak penari cilik dalam pertunjukan Tari Anak-anak Plencing yang dimulai pukul 19.30 WIB. Mas Didik, selaku Sekretaris Bale Kajenar, menyebutkan beberapa tarian yang dibawakan antara lain Tari Caping Ayu dan Tari Rodat yang melibatkan sekitar 70 hingga 80 warga lokal.
Kekhusyukan Hari Kedua: Tahlilan dan Tradisi “Singiran”
Memasuki hari kedua, Rabu, 7 Januari 2026, fokus kegiatan beralih pada aspek spiritual dan latihan seni. Mas Didik menjelaskan bahwa agenda hari tersebut meliputi:
Latihan Seni: Sejak pagi hingga sore, dilaksanakan berbagai latihan seperti Tari Srimpi, Dalang Anak, dan persiapan upacara Bregodo untuk acara puncak esok hari.
Kegiatan Religi: Menjelang malam, sekitar 125 warga berkumpul untuk melaksanakan Tahlilan yang dipadukan dengan tradisi Singiran.
”Singiran itu seperti lagu-lagu atau pujian dalam bahasa Jawa yang mengiringi prosesi tahlilan. Kami menyebutnya ‘nyingiri’, sebuah cara khas warga di sini untuk melantunkan doa,” ujar Mas Didik dalam rekaman wawancaranya.
Menuju Puncak Acara “Gebyakan”
Rangkaian acara ini merupakan persiapan matang untuk acara puncak yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 8 Januari 2026. Mas Didik membocorkan bahwa acara “Gebyakan” atau peresmian tersebut akan dihadiri oleh sejumlah tokoh penting.
Rencananya, acara akan dibuka dengan pemotongan pita oleh Bapak Nurdi. Selain itu, undangan juga telah dikirimkan kepada perwakilan Kementerian Kebudayaan, para Bupati dari wilayah Yogyakarta dan Jawa Timur, serta pejabat dari Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY maupun Kabupaten Bantul.
Selain pertunjukan seni, para pengunjung juga dapat menikmati Pameran Lukisan hasil karya para seniman lokal Yogyakarta dan sekitarnya yang telah dipajang sejak hari pertama. Perhelatan ini diharapkan menjadi momentum kuat untuk melestarikan budaya sekaligus mempererat silaturahmi masyarakat di wilayah Imogiri dan sekitarnya




