Sambut Peresmian Bale Kajenar, Pagelaran Reok Piaman Meriahkan Kawasan Sendang Plencing Wukirsari

Sambut Peresmian Bale Kajenar, Pagelaran Reok Piaman Meriahkan Kawasan Sendang Plencing Wukirsari

TOPLINE, IMOGIRI, BANTUL (Yogyakarta) – Suara tetabuhan kendang dan gerak ritmis penari Reok memeriahkan kawasan Sendang Plencing, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Senin (5/1/2026). Pementasan ini merupakan bagian dari rangkaian acara menyambut peresmian atau kepyak’an Bale Kajenar yang dijadwalkan berlangsung pada 8 Januari 2026 mendatang.

​Hadir dalam kegiatan tersebut, Bapak Purnomo selaku perwakilan panitia dari elemen Forum Cinta Budaya Bangsa (Forchip) Imogiri dan Badan Pengelola Kawasan Cagar Budaya (BP-KCB) Imogiri. Beliau menjelaskan bahwa pementasan ini menampilkan grup kesenian Reok dari daerah Piaman, Gunungkidul.

​Melestarikan Tradisi dan Budaya Lokal
​Bapak Purnomo menyampaikan bahwa Reok merupakan kesenian tradisional yang harus terus diuri-uri atau dilestarikan. Di masyarakat Jawa, kesenian Reok memiliki tempat khusus dalam berbagai peristiwa sosial dan kultural.

​”Biasanya kesenian Reok ini ditanggap (dipentaskan) ketika seseorang memiliki nazar atau hajat tertentu, misalnya jika memiliki anak laki-laki. Selain itu, Reok juga sering dipentaskan dalam acara bersih dusun atau merti dusun,” ujar Bapak Purnomo di sela-sela acara.

​Perbedaan Reok dan Jathilan
​Dalam kesempatan tersebut, Bapak Purnomo juga memberikan edukasi mengenai perbedaan mendasar antara Reok dan Jathilan, dua kesenian yang sekilas terlihat mirip bagi masyarakat awam.

​”Perbedaan yang paling mendasar adalah pada aspek spiritualnya. Dalam Reok, tidak ada penari yang sampai ‘jadi’ atau mengalami kondisi trance (kesurupan). Berbeda dengan Jathilan, di mana penarinya harus ada yang ‘jadi’ atau trance sebagai bagian dari pertunjukan,” jelas beliau.

​Menuju Peresmian Bale Kajenar
​Pementasan Reok ini sekaligus menjadi ajang mangayubagyo atau menyambut dengan suka cita rencana pembukaan Bale Kajenar di kompleks Sendang Plencing. Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kawasan cagar budaya dan seni tradisi semakin meningkat.

​”Salam budaya,” tutup Bapak Purnomo mengakhiri perbincangan.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *