TOPLINE, YOGYAKARTA, (DIY) – Puncak rangkaian acara memperingati Haul Sultan Hamengku Buwono II ke-198 berlangsung meriah dengan digelarnya pertunjukan budaya berupa Wayang Kulit dan Ketoprak, Minggu (3/1/2026).
Acara ini menjadi momentum penting untuk mengenang kembali sejarah perjuangan serta meneladani karakter berani dari penguasa Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat tersebut.
Lakon Babad Alas Wonomarto oleh Dalang Cilik Trah Sultan
Kemeriahan acara diawali dengan pagelaran Wayang Kulit yang membawakan lakon “Babad Alas Wonomarto”. Uniknya, pertunjukan ini dimainkan oleh dalang cilik yang juga merupakan keturunan langsung (Darah Dalem) Sultan Hamengku Buwono II, yaitu Ki Jiddah. Ki Jiddah sendiri merupakan peraih Juara I lomba dalang se-Kabupaten Ngawi. Setelah pertunjukan wayang, acara dilanjutkan dengan pementasan Ketoprak yang dibawakan oleh para seniman Ketoprak Yogyakarta.
Dorongan Gelar Pahlawan Nasional bagi Sultan HB II.
Dalam sambutannya, GBPH Prabukusumo, putra Sultan Hamengku Buwono IX, menekankan pentingnya menghargai perjuangan Sultan HB II. Beliau menegaskan bahwa Sultan HB II sangat layak diajukan untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional.
”Sultan Hamengku Buwono II memiliki sikap antipati yang sangat keras terhadap penjajahan, mulai dari era VOC, Prancis, Belanda, hingga Inggris,” tegas Gusti Prabu.
Akibat keberaniannya melawan penjajah demi menjaga kedaulatan Kasultanan, beliau tercatat naik takhta hingga tiga kali, bahkan harus rela dibuang ke Ambon dan dipenjara di Penang, Malaysia.
Edukasi Sejarah Melalui Seni Tradisi
Ketua II Pesederekan Trah Hamengku Buwono II, Mas Indro Susilo, bersama Sekretaris Trah, Mas A. Heru Sumaryo, menjelaskan bahwa pemilihan seni pertunjukan dalam puncak Haul ini bertujuan agar masyarakat dan para keturunan (Trah) semakin mencintai budaya Jawa.
”Melalui wayang dan ketoprak yang membawakan cerita sejarah, masyarakat lebih mudah mencerna kisah masa lampau dan meneladani tokoh-tokohnya. Ini adalah cara kami agar generasi muda Trah HB II terus melanjutkan tradisi seni dan budaya Jawa,” ungkap mereka.
Langkah ini selaras dengan sejarah Sultan HB II sendiri. Dahulu, beliau juga menggunakan seni sebagai alat perjuangan untuk mengobarkan semangat melawan penjajah melalui penciptaan wayang lakon Jayapusaka. Dalam lakon tersebut, tokoh utama Bima dijadikan representasi karakter Sultan HB II yang jujur, keras, dan tegas dalam menghadapi musuh.
Kehadiran Tokoh Penting
Acara khidmat ini turut dihadiri oleh tamu-tamu kehormatan, di antaranya:
Raja Siak dari Kalimantan Barat.
Perwakilan Walikota Yogyakarta.
Muspika Kemantren Mergangsan, Yogyakarta.




